5 Tokoh Besar yang Dituduh Berzina

 

Foto: Pixabay

Opini- Inilah lima tokoh besar Islam yang pernah dituduh berzina

1. Nabi Yusuf ‘alaihi salam

Nabi Yusuf difitnah oleh istri al-‘Aziz yang gagal merayu dan menggoda yusuf untuk selingkuh dengannya. Al-‘Aziz adalah menteri besar di negeri Mesir yang membeli Yusuf dari para kafilah dagang yang menemukan Yusuf di sumur.

Nabi Yusuf kemudian tinggal bersama al-‘Aziz dan istrinya. Memasuki usia dewasa, Allah menganugrahi Yusuf hikmah, keluasan ilmu dan rupa yang elok. Itu semua membuat istri al-‘Aziz jatuh cinta dan tak mampu menahan hasratnya kepada Yusuf.

Dibuatlah makar agar Yusuf dapat jatuh dalam pelukannya, istri al-‘Aziz menutup semua pintu dalam rumah, membuang rasa malunya, kemudian mengungkapkan rasa cinta dan menggoda Yusuf dengan semua godaan.

Allah selamatkan Yusuf, berlarilah Yusuf menuju pintu, ia dikejar oleh wanita itu dan menarik-narik pakaiannya. Keduanya sampai di pintu, namun tiba tiba pintu itu terbuka dan ternyata al-‘Aziz ada disitu.

Kerena takut dan malu, akhirnya istri al-‘Aziz memfitnah Yusuf, bahwa dia adalah lelaki yang hendak memperkosanya. Allah abadikan kisah ini dalam firmanNya :

“Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. Wanita itu berkata : “apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih”

Fitnah itu berujung dangan dipenjarakannya Yusuf, namun Allah membalas makar orang dholim dengan sebaik balasan, diakhir kisah, istri al-‘Aziz mengakui bahwa Yusuf adalah orang yang benar dan dirinya yang salah, Yusuf diangkat menjadi mentri di negri Mesir, dia membawa seluruh keluarga termasuk saudara-saudara yang dahulu mencelakakannya untuk hidup sejahtera disana.

2. Nabi Musa ‘alaihi salam

Al-Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan surat al-Qoshosh ayat 81 membawakan riwayat dari Ibnu ‘Abbas tentang tuduhan zina yang dilontarkan Qorun kepada Musa.

Dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa Qorun mejanjikan seorang wanita pelacur harta yang banyak dengan syarat dia harus memfitnah nabi Musa di khalayak ramai bahwa Musa sudah berzina dengannya.

Ketika nabi Musa berdiri dihadapan bani Isroil, mengajarkan kitab Allah yang ketika itu adalah Taurot, pelacur ini berkata :”Wahai Musa bukankah enkau telah berbuat begini dan begini denganku?”

Mendengar perkataan itu, gemparlah bani Isroil. Nabi Musa kemudian sholat dua roka’at, memohon pertolongan Allah, kemudian berkata : “Aku bersumpah kepadamu dengan nam Allah yang telah membelah lautan untuk menyelamatkan bani Isroil, apa yang membuatmu melakukan hal ini kepadaku?”

Bergetarlah wanita tersebut karena merasa takut, kemudian dia menjawab: “Sesungguhnya Qorun menjanjikanku harta yang banyak bila aku mengatakan fitnah ini kepadamu, namun aku sekarang memohon ampun kepada Allah dan aku ingin baertaubat”.

Mendengar pengakuann tersebut, bersujudlah nabi Musa meminta Allah memberi hukuman kepada Qorun, kemudian Allah mewahyukan kepada Musa, bahwa bumi sudah ditundukkan untuknya.

Maka Musa memerintahkan bumi untuk menenggelamkan Qorun dan semua hartanya, Allah abadikan kisah ini dalam firmanNya:

“Maka Kami benamkan Qorun beserta rumahnya ke dalam bumi, maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang mampu menolongnya dari adzab Allah, dan tiadalah ia termasuk orang-orang yang dapat membela dirinya”.

3. Juraij ar-Rohib

Juraij adalah ahli ibadah yang sangat masyhur dikalangan Bani Isroil, setiap hari beliau selalu menghabiskan waktu untuk beribadah di mihrob khusus miliknya. Kuatnya ibadah beliau menjadi perbincangan di masyarakat.

Karena jadi perbincangan di masyarakat, seorang pelacur yang sangat cantik berkata : “Kalau kalian mau, aku akan menggodanya dan menunjukan buktinya kepada kalian”.

Maka mulailah wanita in menjalankan aksinya, didatanginya mihrob Juraij, dia menggodannya namun Juraij sama sekali tidak melirik kepadanya. Karena putus asa, wanita ini akhirnya pergi, dia melihat seorang penggembala kambing, maka terjadilah apa yang terjadi, dan dia hamil.

Setelah melahirkan, wanita ini mengumumkan bahwa anaknya adalah hasil dari hubungan dirinya dengan Juraij. Maka masyarakatpun gempar, mereka datang kepada Juraij, menyuruhnya untuk turun, merendahkan martabatnya, menghancurkan mihrobnya dan memukulinya.

Kemudian Juraij bertanya: “Kenapa kalian berbuat ini?” mereka menjawab bahwa Juraij telah berzina dengan pelacur sampai melahirkan bayi. “Bawa kemari bayi tersebut” pinta Juraij. Maka didatangkanlah bayi tersebut.

Setelah bayi itu tiba, Juraij melakukan sholat, setelah selesai, beliau mendatangi bayi dan memegang perutnya seraya bertanya: “Wahai bayi, siapa bapakmu?” maka bayi ini tiba-tiba bisa berbicara: “Bapakku adalah seorang penggembala kambing”.

Melihat kejadian itu, masyarakat menjadi sadar, mereka menciumi Juraij, mengusap kaki dan tangannya. Wahai Juraij sebagai permohonan maaf, kami akan bangun mihrob dari emas untukmu. Namun Juraij menjawab: “Tidak usah, namun bangunlah dari tanah seperti semula”, dan merekapun melakukannya.

Kisah ini terdapat di shohih Muslim, kitab: Birr al-walidain, bab : Mendahulukan birr al-walidain atas ibadah sunah.

4. Sayyidah Maryam binti ‘Imron ‘alaihas salam

Maryam adalah wanita paling mulia diantara seluruh wanita yang pernah ada, dialah satu-satunya wanita yang disebutkan namanya dalam al-Qur’an, bahkan menjadi nama surat. Maryam lahir dari keluarga terhormat, orang tuanya adalah orang sholeh, paman dan sepupunya adalah Nabi, Zakariya dan Yahya.

Maryam dituduh berzina oleh kaumnya karena telah melahirkan seorang anak padahal dia tidak menikah. Namun Allah menjawab tuduhan itu dalam al-Qur’an dengan jawaban yang utuh, jawaban yang menjelaskan mengenai apa yang terjadi dengan Maryam, Allah berfirman :

“Dan ingatlah kisah Maryam yang disebutkan dalam kitab, ketika dia menjauhkan diri daripada keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur. Maka dia mengadakan tabir yang melindunginya daripada mereka; lalu Kami (Allah) mengutuskan Ruh Kami kepadanya, maka Ruh itu muncul di hadapannya dalam bentuk manusia yang sebenarnya.

Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung kepada al-Rahman daripadamu, jika kamu seorang yang bertakwa”. Ruh itu berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk menganugerahkan kepada engkau seorang anak laki-laki yang suci.”

Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku, dan aku bukan seorang perempuan jahat.” Ruh itu berkata: “Demikianlah, Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku dan agar Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat daripada Kami dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan’.”

Maka Maryam mengandung, lalu dia mengasingkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksanya bersandar pada pohon kurma, Maryam berkata: “Aduhai, alangkah baiknya jika aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak bererti, lagi dilupakan”.

Maka Ruh itu menyerunya daripada tempat yang rendah: “Janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.” Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang matang kepadamu.”

“Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar kepada al-Rahman untuk berpuasa, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.”

Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Wahai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat hmungkar.” “Wahai saudara perempuan Harun, ayahmu bukanlah seorang yang jahat dan ibumu bukanlah seorang perempuan pezina.”

Maka dia Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: “Bagaimana kami dapat berbicara dengan seorang yang masih dalam buaian?” Dia (anak Maryam) berkata: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Allah memberikan kitab kepadaku, dan Allah menjadikan aku seorang nabi.”

Dan Allah menjadikan aku seorang yang diberkati di mana sahaja aku berada, dan Allah memerintahkan kepadaku mendirikan sholat dan menunaikan zakat selama aku hidup, dan berbakti kepada ibuku. Dan Allah tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.”

“Dan kesejahteraan atas diriku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”. Itulah ‘Isa ibn Maryam. Perkataan yang benar, yang mereka berselisihan tentangnya.

Tidak ada bagi Allah mempunyai anak, maha suci Allah dari yang demikian. Apabila Allah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka abdikan dirimu kepada-Nya, Inilah jalan yang lurus.

Maka berselisihlah golongan-golongan itu sesama mereka. Maka kecelakaanlah bagi orang kafir yang pada waktu menyaksikan hari yang besar. Alangkah terangnya pendengaran mereka dan tajamnya penglihatan mereka, pada hari mereka datang kepada Kami (Allah). Tetapi orang-orang yang zalim pada hari ini (di dunia) berada dalam kesesatan yang nyata. (Q.S Maryam ayat 16-38)

5. Sayyidah ‘Aisyah binti Abu bakar ash-Shidiq rodhiyallahu ‘anhuma

‘Aisyah difitnah oleh pemimpin munafik Madinah bernama ‘Abdullah bin Ubay bin Salul yang kemudian disebarkan oleh beberapa orang yang termakan ucapannya yang akhirnya menjadi pembicaraan kaum muslimin.

Kisah ini dituturkan langsung oleh Imam al-Bukhori dalam shohihnya :

Aisyah berkata : “Apabila Rasulullah ﷺ hendak keluar dalam suatu perjalanan, beliau selalu mengadakan undian di antara para istri beliau dan siapa diantara mereka yang keluar undiannya, maka Rasulullah ﷺ akan berangkat bersamanya”

Aisyah berkata : “Lalu Rasulullah ﷺ mengundi diantara kami untuk menentukan siapa yang akan ikut dalam salah satu peperangan, dan ternyata keluarlah undianku sehingga aku pun berangkat bersama Rasulullah ﷺ. Peristiwa itu terjadi setelah diturunkan ayat hijab Al-Ahzab ayat 53, dimana aku dibawa dalam sekedup dan ditempatkan di sana selama perjalanan kami.

Pada suatu malam ketika Rasulullah ﷺ selesai berperang lalu pulang dan kami telah mendekati Madinah, beliau memberikan aba-aba untuk berangkat. Aku pun segera bangkit setelah mendengar mereka mengumumkan keberangkatan lalu berjalan sampai jauh meninggalkan pasukan tentara.

Setelah beres dengan urusanku, aku langsung menghampiri unta tungganganku, namun saat aku meraba dada, ternyata kalungku yang terbuat dari mutiara Adhfar putus. Aku pun kembali untuk mencari kalungku sehingga tertahan karena pencarian itu. Sementara itu, orang-orang yang bertugas membawaku telah mengangkat sekedup itu dan meletakkannya ke atas punggung untaku yang biasa aku tunggangi karena mereka mengira aku telah berada di dalamnya.”

Aisyah menambahkan, “Kaum wanita pada waktu itu memang bertubuh ringan dan langsing tidak banyak ditutupi daging karena mereka hanya mengkomsumsi makanan dalam jumlah sedikit sehingga orang-orang itu tidak merasakan beratnya sekedup ketika mereka mengangkatnya ke atas unta.

Apalagi ketika itu aku anak perempuan yang masih belia. Mereka pun segera menggerakkan unta itu dan berangkat. Aku baru menemukan kalung itu setelah pasukan tentara berlalu. Kemudian aku mendatangi tempat perberhentian mereka, namun tak ada seorang pun di sana.

Lalu aku menuju ke tempat yang semula dengan harapan mereka akan merasa kehilangan dan kembali menjemputku. Ketika aku sedang duduk di tempatku rasa kantuk mengalahkanku sehingga akupun tertidur.

Ternyata ada Shafwan bin Mu’aththal As-Sulami yang berhenti dari perjalanan pada akhir malam untuk istirahat karena baru berangkat pada malam hari dan keesokan paginya ia sampai di tempatku.

Dia melihat bayangan hitam seperti seorang yang sedang tidur, lalu ia mendatangi dan langsung mengenali ketika melihatku karena ia pernah melihatku sebelum diwajibkannya hijab. Aku terbangun oleh ucapannya, “Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji’uun” pada saat dia mengenaliku.

Aku segera menutupi wajahku dengan kerudung. Dan demi Allah, dia sama sekali tidak mengajakku bicara sepatah kata pun dan akupun tidak mendengar satu katapun darinya selain ucapannya, “inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”

Kemudian ia menderumkan untanya dan memijak kakinya, sehingga aku dapat menaikinya. Dan ia pun berangkat sambil menuntun unta yang aku tunggangi hingga kami dapat menyusul pasukan yang sedang berteduh di tengah hari yang sangat panas.” (HR al-Bukhori, kitab : syahadat)

Itulah kisah yang terjadi, namun ‘Abdullah bin ubay bin Salul sang munafik merubah cerita dan mengarang-ngarang, dia berkata : “’Aisyah takan selamat dari Shofwan, dan Shofwan takan selamat dari ‘Aisyah” ucapannya ini dipercaya oleh beberapa orang yang kemudian tersebar dikalangan Muslimin.

Allah yang langsung menjawab tuduhan ini dalam al-Qur’an, beliau berfirman :

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (QS an-Nur ayat 11)

Begitulah orang-orang yang benar bila difitnah, Allah akan berikan pertolongan dan jawaban yang luar biasa atas apa yang menimpa mereka, selama mereka berada diatas jalan yang benar, sabar dan tetap yakin akan pertolongan Allah.

Abil Mafahim, Sekarang mengampu sebagai salah satu pengasuh Pondok Pesantren Al-Hamdiyah Lasem